Dedolarisasi jadi Kunci Penting Membongkar Sistem Hegemoni Amerika

JAKARTA – Banyak negara meninggalkan dolar Amerika Serikat (Amerika Serikat/USD), dikarenakan mata uang utama ini semakin digunakan sebagai alat pada sektor keuangan. Hal ini disampaikan oleh Profesor Universitas Sichuan, Huang Yunsong di Eastern Economic Diskusi (EEF) di dalam Vladivostok.
Saat pusat-pusat ekonomi global mulai bergeser ke Timur, diversifikasi mata uang menjadi diperlukan, kata Huang Yunsong di sebuah panel diskusi tentang kerja sejenis Rusia dengan India juga China.
Tren global untuk menggunakan mata uang nasional pada perdagangan, mendapatkan kesempatan di tempat berada dalam sanksi sektor ekonomi yang tersebut belum pernah terjadi sebelumnya terhadap Rusia yang diperkenalkan oleh Amerika Serikat lalu sekutunya setelahnya dimulainya konflik Ukraina.
Usai secara efektif diblokir dari sistem keuangan Barat, Rusia beralih ke opsi alternatif pada operasi keuangan, yang digunakan kemudian dihadiri oleh oleh mitra asing Moskow.
Menurut Huang, berbagai negara ketika ini berjuang untuk mendiversifikasi mata uang mereka, kemudian motivasi dia didasarkan pada tiga faktor utama: tindakan Dana Moneter Internasional (IMF), dimana menurut Huang, apa yang dimaksud dilaksanakan “memiliki dampak negatif pada sektor ekonomi sejumlah negara,”.
Lalu praktik yang diterapkan oleh AS, serta transformasi global yang digunakan luas di kebijakan ekonomi.
“AS banyak merebut hubungan perdagangan kemudian keuangan dengan memaksakan ketergantungan pada dolar pada semua negara yang tersebut berpartisipasi,” kata Huang.
Menurut catatan tertulis bahwa sebagian besar negara menganggap praktik ini tidaklah dapat ditoleransi.
Dia menambahkan, bahwa “pergeseran pada pembangunan ekonomi” global lalu “pergeseran pusat dunia usaha ke Timur, ke China serta Rusia” juga mengupayakan negara-negara untuk beralih menggunakan mata uang nasional pada usaha serta perdagangan.



