Teknologi

Membandingkan Tingkat Udara Bebas Ibukota Indonesia Versi Sistem Baru Dinas LH juga Organisasi Pemantau Kualitas Udara

Jakarta – Kepala Dinas Lingkungan Hidup Ibukota Asep Kuswanto menjamin data yang dipublikasi dari sistem baru pemantauan kualitas udara Jakarta dapat dipertanggungjawabkan. Angka dipastikannya akurat mengandalkan jaringan 31 stasiun pemantau kualitas udara–meningkat dari sebelumnya yang cuma lima stasiun.

Ke-31 stasiun itu disebutkan milik Dinas LH, BMKG, World Resources Institute (WRI), serta Vital Strategies yang tersebut susah terstandarisasi penempatan juga kalibrasinya. “Kini komunitas sanggup memperoleh informasi kualitas udara DKI Jakarta yang digunakan real time menggunakan data yang mana dirilis pemerintah,” katanya di peluncuran platform digital baru tersebut, yakni website udara.jakarta.go.id, hari terakhir pekan 5 Juli 2024.

Asep menyinggung pemanfaatan data pemantauan kualitas udara Ibukota dari sumber lain yang tak sanggup dipertanggungjawabkan, seperti IQAir. Lingkungan ini telah lama populer sebagai referensi masyarakat termasuk di dalam Jakarta. 

Alat pemantau kualitas udara Organisasi Pemantau Kualitas Udara di Jalan Perjuangan, Kebon Jeruk, Ibukota Indonesia Barat, yang dimaksud didatangi anggota Dinas LH DKI pada Hari Jumat 25 Agustus 2023. Tiap hari yang digunakan identik ada 24 stasiun atau alat pada jaringan Organisasi Pemantau Kualitas Udara yang dimaksud digunakan untuk memantau kualitas udara Jakarta. (Dok Dinas LH DKI)

“Ini tidak tanding menandingi. Tapi kita tak mengerti akan standarnya apakah mengacu ke pemerintah atau tidak, dikalibrasi atau tidak,” kata dia.

Sebelumnya, Asep menjelaskan bahwa yang digunakan dimaksud adalah Standar Nasional Tanah Air (SNI), seperti SNI 9178:2023 yang merupakan standar uji kinerja alat pemantauan kualitas udara yang dimaksud menggunakan sensor berbiaya rendah. Standar ini meyakinkan bahwa alat pemantau kualitas udara memenuhi kriteria yang digunakan diperlukan untuk menghasilkan kembali data yang mana akurat dan juga konsisten. 

Platform baru disebutnya tak belaka mengintegrasikan data dari bermacam sumber yang telah lama memenuhi SNI saja, namun juga mengacu pada Peraturan Menteri LHK No. 14 Tahun 2020 tentang Skala Standar Pencemar Atmosfer (ISPU) sebagai indeks kualitas udara yang dimaksud berubah menjadi acuan secara nasional. Acuan yang disebutkan berbeda signifikan dengan penetapan indeks kualitas udara menurut US EPA maupun WHO. 

Stasiun pemantau kualitas udara menggerakkan milik Dinas Lingkungan Hidup Jakarta. pemerintahan Ibukota menyatakan mengembangkan sistem inventarisasi emisi yang mana tambahan sistematis untuk memantau sumber-sumber polusi udara. FOTO/Dok. DLH DKI

Sebagai ilustrasi, ISPU untuk parameter polutan debu halus Partikel Mikro pada waktu artikel ini dibuat pukul 17 Waktu Indonesia Barat  menunjuk hitungan 11 (kualitas udara baik) sebagai yang mana terbaik juga 90 (kualitas udara sedang) yang digunakan terburuk. Masing-masing dari stasiun pemantau yang mana ada pada Pulau Pramuka lalu Jalan Pasar Minggu. 

Tampak dari 31 stasiun yang ada didominasi warna yang mana menunjukkan hasil pengukuran kaulitas udara sedang. Ada dua stasiun yang mana memberi hasil kualitas udara baik yakni di dalam Pulau Pramuka dan juga Pulau Panggang.

Sebagai pembanding, platform Organisasi Pemantau Kualitas Udara memberi peta yang lebih besar beragam dari jaringan 42 stasiun miliki para kontributornya di DKI Jakarta pada waktu kemudian pengukuran parameter polutan yang sama. Sebagian memang benar menunjukkan indeks kualitas udara baik serta sedang, tapi tak sedikit yang tergolong bukan baik bagi kelompok sensitif. 

Terburuk menurut Perusahaan adalah Pasir Putih ke Ancol, DKI Jakarta GBK, dan juga Kemayoran.   

Artikel ini disadur dari Membandingkan Kualitas Udara Jakarta Versi Platform Baru Dinas LH dan IQAir

Related Articles

Back to top button